Apa yang membuat kuliner Aceh begitu khas?
Aceh mempunyai bentang pesisir, dataran rendah, dan pegunungan. Keragaman alam tersebut ikut membentuk bahan pangan yang digunakan: ikan dan hasil laut, daging, sayuran, kelapa, beras, serta aneka rempah. Tidak semua makanan Aceh terasa sama. Ada kari yang pekat, lauk asam-pedas, masakan daging yang relatif sederhana, bubur gurih, dan kue lembut berbungkus daun pisang.
Daftar berikut bukan peringkat makanan “terbaik”. Setiap hidangan hadir dalam konteks yang berbeda—ada yang umum dijumpai di warung, ada yang lekat dengan kenduri, dan ada pula yang terasa istimewa karena hadir saat Ramadan atau hari raya.
Mengenal makanan khas Aceh berarti mengenal cara sebuah masyarakat menjaga bahan, berbagi hidangan, dan mewariskan rasa.
Mie Aceh
Mie Aceh menggunakan mi kuning tebal dengan bumbu kari-rempah yang kuat. Penyajiannya lazim ditemukan dalam versi goreng, tumis yang sedikit berkuah, atau kuah. Pelengkapnya dapat berupa daging, udang, cumi, atau kepiting, kemudian disandingkan dengan acar bawang, mentimun, jeruk nipis, dan emping.
Popularitasnya membuat Mie Aceh menjadi pintu masuk yang mudah bagi orang di luar Aceh untuk mengenal karakter bumbu daerah ini. Namun, rasa dan racikan setiap penjual tetap dapat berbeda.
Ayam Tangkap
Ayam Tangkap berupa potongan ayam goreng yang disajikan bersama daun-daun aromatik seperti daun temurui atau daun kari, pandan, dan cabai hijau. Daun yang ikut digoreng memberi aroma sekaligus tekstur renyah yang menjadi ciri tampilannya.
Hidangan ini memperlihatkan bahwa kekayaan rasa Aceh tidak selalu datang dari kuah pekat. Aroma daun, bumbu ungkep, dan teknik menggoreng juga dapat menjadi pusat pengalaman makan.
Kuah Beulangong
Nama beulangong merujuk pada belanga atau kuali besar tempat hidangan ini dimasak. Daging sapi, kambing, atau kerbau dimasak bersama bumbu dan biasanya dipadukan dengan nangka muda atau pisang muda. Ukuran kuali memungkinkan hidangan dibuat dalam jumlah besar.
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Kuah Beulangong lekat dengan hajatan, peringatan Maulid, dan kegiatan makan bersama. Nilainya karena itu bukan hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada proses memasak bersama dan pembagian hidangan kepada masyarakat.
Sie Reuboh
Sie reuboh berarti daging rebus. Masakan khas Aceh Besar ini menggunakan daging sapi atau kerbau yang dimasak dengan bumbu dan cuka. Dibandingkan banyak masakan Aceh lain, susunan bumbunya relatif ringkas; karakter asam dari cuka justru menjadi penandanya.
Catatan Warisan Budaya Takbenda Aceh menempatkan Sie Reuboh sebagai kuliner Aceh Besar dan menyebut penambahan cuka dilakukan bertahap agar bumbu meresap ke dalam daging.
Kuah Pliek U
Kuah Pliek U adalah masakan berisi beragam sayuran dengan pliek u, bahan khas dari pengolahan kelapa, sebagai pembentuk rasa. Isi sayurnya dapat berbeda menurut musim dan kebiasaan dapur, misalnya daun melinjo, kacang panjang, nangka muda, pepaya muda, atau terong.
Kekuatan hidangan ini ada pada pertemuan banyak bahan di dalam satu kuah. Ia sering dibaca sebagai gambaran kebersamaan: bahan yang berbeda tidak kehilangan identitasnya, tetapi menyatu dalam rasa yang utuh.
Eungkot Keumamah atau Ikan Kayu
Keumamah dibuat dari ikan—dalam catatan resmi disebut ikan tongkol—yang direbus lalu dikeringkan. Teksturnya yang padat setelah pengeringan melahirkan sebutan “ikan kayu”. Bahan tersebut kemudian diiris atau disuwir dan dimasak kembali bersama bumbu seperti cabai, bawang, daun temurui, dan asam sunti.
Keumamah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018. Di balik rasanya, hidangan ini menyimpan pengetahuan tentang cara masyarakat mengolah hasil laut. Baca penjelasan lengkapnya dalam Apa Itu Keumamah? dan Sejarah Ikan Kayu Aceh.

Sate Matang
Sate Matang dikenal berasal dari kawasan Matang di Bireuen. Potongan daging sapi atau kambing dibumbui lalu dibakar, kemudian disajikan bersama kuah kaldu berbumbu. Perpaduan sate bakar dan kuah membuat pengalaman makannya berbeda dari banyak sate daerah lain.
Lontong atau nasi dapat menjadi pendamping, sementara kuah hangat membantu menyatukan aroma daging bakar dan rempah.
Asam Keueng
Dalam bahasa Aceh, asam keueng merujuk pada rasa asam dan pedas. Hidangan ini umumnya berupa ikan berkuah dengan kunyit, cabai, dan unsur asam seperti asam sunti. Jenis ikan serta komposisi bumbunya dapat berbeda menurut wilayah dan resep keluarga.
Asam Keueng memperlihatkan sisi kuliner Aceh yang segar dan tajam—berbeda dari anggapan bahwa semua masakan Aceh selalu bersantan atau sangat pekat.
Martabak Aceh
Martabak Aceh memiliki susunan yang khas: adonan roti atau kulit berada di bagian dalam, sementara lapisan telur berbumbu membungkus bagian luarnya. Cincangan daun bawang dan bawang memberi aroma gurih, lalu martabak lazim dinikmati dengan acar bawang atau kuah kari, bergantung pada cara penyajiannya.
Hidangan ini mudah dijumpai sebagai teman minum teh atau kopi dan sering hadir berdekatan dengan warung Mie Aceh.
Kanji Rumbi
Kanji Rumbi merupakan bubur nasi gurih dengan rempah dan aneka pelengkap. Racikannya dapat menggunakan daging, ayam, udang, atau sayuran sesuai kebiasaan setempat. Teksturnya lembut, tetapi aromanya tetap berlapis karena penggunaan rempah.
Kanji Rumbi sangat lekat dengan bulan Ramadan di Aceh. Di sejumlah tempat, bubur ini dimasak bersama dan dibagikan sebagai hidangan berbuka, sehingga nilai kebersamaan sama pentingnya dengan rasa.
Timphan
Timphan adalah kue basah khas Aceh yang dibungkus daun pisang. Adonannya lembut dan dapat dibuat dengan tepung ketan serta pisang atau labu, kemudian diberi isian seperti srikaya atau kelapa manis. Variasi bahan dan isian mengikuti kebiasaan keluarga.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mencatat Timphan sebagai panganan istimewa yang hadir dalam perkawinan, syukuran, sunatan, perayaan Maulid, dan Lebaran. Kehadirannya mengingatkan bahwa cerita kuliner Aceh tidak hanya tersimpan dalam lauk dan kari, tetapi juga dalam kudapan keluarga.
Cara menikmati kuliner Aceh dengan lebih utuh
Tidak perlu mencari satu definisi rasa Aceh. Cobalah melihat konteks setiap hidangan: Mie Aceh sebagai makanan warung yang hidup, Kuah Beulangong sebagai simbol makan bersama, Keumamah sebagai pengetahuan mengolah ikan, Kanji Rumbi sebagai tradisi Ramadan, dan Timphan sebagai bagian dari perayaan keluarga.
Jika baru mulai, pilih hidangan dari kategori yang berbeda. Padukan satu makanan berkuah, satu lauk, dan satu kudapan. Dengan begitu, kita tidak hanya mengenal “pedas dan rempah”, tetapi juga melihat keragaman tekstur, teknik, dan fungsi sosial di balik makanan Aceh.
Sumber bacaan
- Kementerian Pariwisata Republik Indonesia — Kuliner Khas Aceh
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh — Kuah Beulangong
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh — Sie Reuboh
- Basis Data Warisan Budaya Takbenda Kemendikbudristek — Keumamah
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh — Timphan
- Gardjito, Murdijati; Santoso, Umar; dan Utami, Nurullia. Ragam Kuliner Aceh: Nikmat yang Sulit Dianggap Remeh. UGM Press, 2018.
Ingin menghadirkan rasa Aceh di meja makan?
Kenali Ikan Kayu Aceh dan pilihan lauk khas Aceh serta Nusantara dari Dapur Mami Kikas.
Lihat Produknya
